Beberapa bulan yang lalu, Indonesia menerima hasil OECD report yang mengatakan bahwa masalah perekonomian Indonesia adalah masalah supply side bukan masalah demand side. Hal ini tentu saja masuk akal mengingat konsumsi di Indonesia tetap tinggi. Tidak dapatnya supply mengikuti demand mengakibatkan harga naik terus dan terjadilah inflasi. Hal ini dipertegas lagi melalui paper Basri dan Patunru (2008) yang menyatakan hal serupa. Diagnosis ini dilakukan di paruh ke dua tahun 2008. Tulisan yang senafas juga disampaikan Bang Dede di kompas, (lihat di sini). Menurut Bang Dede dalam tulisan tersebut, pertumbuhan konsumsi selama 10 tahun terakhir, bahkan menunjukkan bahwa masalah kita bukan pada sisi demand.
Lalu, apa yang terjadi setelah krisis finansial di Amerika? Terjadilah apa yang disebut dengan the paradox of thrift seperti yang pernah terjadi pada masa great depression. Pada kondisi ekonomi tertentu, seperti sekarang, orang cenderung meningkatkan proporsi tabungannya dan mengurangi proporsi tabungannya. Peningkatan proporsi tabungan ini oleh ekonom sebelum masa Keynes dianggap baik karena akan meningkatkan available fund for investment. Namun, Keynes dan pengikutnya yang hidup di jaman great depression menyadari bahwa dampak positif peningkatan tabungan terhadap ekonomi memiliki batas optimal, yang di atas itu justru akan menurunkan permintaan secara keseluruhan. Hal ini lah yang dinamakan the paradox of thrift. Meskipun proporsi tabungan meningkat, namun karena hal ini menurunkan permintaan dan akhirnya menurunkan Gross Domestic Product, yang bisa jadi justru menurunkan jumlah investasi dalam perekonomian.
Lalu, dimana masalah kita yang sebenarnya? Penawaran, permintaan atau keduanya? Jika keduanya apa yang akan terjadi? Jika kita memiliki penawaran yang inelastis (sama sekali tidak terpengaruh oleh peningkatan permintaan) dan pada saat yang bersamaan mengalami penurunan permintaan, maka harga akan turun lebih cepat dibandingkan jika kita memiliki sisi penawaran yang elastis. Artinya, penurunan permintaan bersamaan dengan tidak elastisnya penawaran akan dapat menghantarkan negara kita lebih cepat pada depresi ekonomi. Penurunan harga akan menurunkan insentif dalam perekonomian, menurunkan GDP, meningkatkan pengangguran yang akan memperburuk sisi penawaran dan seterusnya.
Inikah masalah kita yang sebenarnya?
Lalu, apa yang terjadi setelah krisis finansial di Amerika? Terjadilah apa yang disebut dengan the paradox of thrift seperti yang pernah terjadi pada masa great depression. Pada kondisi ekonomi tertentu, seperti sekarang, orang cenderung meningkatkan proporsi tabungannya dan mengurangi proporsi tabungannya. Peningkatan proporsi tabungan ini oleh ekonom sebelum masa Keynes dianggap baik karena akan meningkatkan available fund for investment. Namun, Keynes dan pengikutnya yang hidup di jaman great depression menyadari bahwa dampak positif peningkatan tabungan terhadap ekonomi memiliki batas optimal, yang di atas itu justru akan menurunkan permintaan secara keseluruhan. Hal ini lah yang dinamakan the paradox of thrift. Meskipun proporsi tabungan meningkat, namun karena hal ini menurunkan permintaan dan akhirnya menurunkan Gross Domestic Product, yang bisa jadi justru menurunkan jumlah investasi dalam perekonomian.
Lalu, dimana masalah kita yang sebenarnya? Penawaran, permintaan atau keduanya? Jika keduanya apa yang akan terjadi? Jika kita memiliki penawaran yang inelastis (sama sekali tidak terpengaruh oleh peningkatan permintaan) dan pada saat yang bersamaan mengalami penurunan permintaan, maka harga akan turun lebih cepat dibandingkan jika kita memiliki sisi penawaran yang elastis. Artinya, penurunan permintaan bersamaan dengan tidak elastisnya penawaran akan dapat menghantarkan negara kita lebih cepat pada depresi ekonomi. Penurunan harga akan menurunkan insentif dalam perekonomian, menurunkan GDP, meningkatkan pengangguran yang akan memperburuk sisi penawaran dan seterusnya.
Inikah masalah kita yang sebenarnya?
Whenever young researcher faces higher living cost (can be caused by marriage, inflation, etc), it’s like taxing their more-idealistic-lower paid job. The substitution effect will makes him still enjoy more-idealistic-lower-paid job but the income effect will make him work more for the lower-idealistic-higher-paid job. The final result would depend on the magnitude of these two effects. If the income effect is higher than the substitution effect, then he will choose to do more higher-paid job rather than the lower paid one.